Bapak Ir. Airlangga Hartarto, MMT, MBA untuk ketiga kalinya menjadi nakhoda Asosiasi Emiten Indonesia (AEI). dan secara resmi menjabat sebagai Ketua Umum pasca-Musyawarah Anggota AEI untuk periode tahun 2011-2014. "Saya terpilih secara aklamasi," kata Airlangga usai Musyawarah Anggota AEI, yang berlangsung di Jakarta, 9 Maret 2011 lalu di Ritz Carlton Ballroom - Pacific Place.
Jumlah emiten yang hadir dan mengikuti rapat sebanyak 193 emiten dari total 375 perusahaan Anggota Asosiasi Emiten Indonesia, atau mewakili 51% suara. Airlangga Hartarto merupakan calon tunggal berdasarkan usulan Bakal Calon yang sebelumnya diajukan lebih dari 22% suara Anggota AEI dari minimal 10% yang dipersyaratkan untuk menjadi Ketua Umum. Musyawarah Anggota AEI ini berlangsung cepat.
Secara struktur organisasional Airlangga akan didampingi oleh Sekretaris Umum yang dijabat oleh Yan Partawijaya (Sinarmas Group), Bendahara Umum Menas Shahaan (Panin Sekuritas), dan Direktur Eksekutif Isakayoga CH.
Bapak Airlangga Hartarto untuk pertama kalinya menjabat Ketua AEI untuk periode 2005-2008. Bapak Airlangga ketika itu unggul 4 suara dari pesaingnya Edwin Kawilarang.
Tetapi, untuk periode 2008-2011 lalu dia menjadi calon tunggal. Musyawarah Anggota AEI ketika itu pun secara aklamasi memilihnya. Kini dia kembali untuk menjabat ketiga kalinya.
Dalam pandangannya, pasar modal Indonesia merupakan salah satu pilar bagi perekonomian Indonesia. Peran pasar modal menjadi sedemikian penting ketika dihadapkan dengan pemenuhan pembiayaan bagi perusahaan.
Karena itu, lanjutnya, tantangan ke depan seiring dengan pertumbuhan ekonomi pertumbuhan pasar modal diyakini akan terus berkembang, sehingga dibutuhkan sisi suplai yang banyak, dengan bertumbuhnya IPO di Bursa Efek Indonesia.
Bapak Airlangga Hartarto juga mengharapkan dalam waktu mendatang semakin banyak perusahaan yang mencatatkan sahamnya di PT Bursa Efek Indonesia (BEI), terutama beberapa perusahaan berstatus BUMN.
Dia berpendapat, perusahaan-perusahaan swasta pun dapat mencatatkan sahamnya. Dengan demikian, nilai kapitalisasi pasar akan tumbuh. "Kalau dari BUMN kita mengharapkan ada 2-3 perusahaan," katanya.
Dijelaskannya, asosiasi emiten sendiri mengharapkan ada penambahan nilai kapitalisasi dengan melakukan dual listing. Ditambah, dengan perusahaan-perusahaan yang tercatat juga merupakan saham unggulan.
"Kalau bisa pada kuartal keempat, posisi kita di invesment grade. Sehingga sedini mungkin kita harus siapkan suplainya," ungkap Bapak Airlangga penuh semangat. Seraya dia menambahkan, jika perusahaan properti dan infrastruktur BUMN mencatatkan sahamnya akan lebih baik lagi. Dia mencontohkan, salah satunya, PT Baturaja.
Selain itu, beberapa BUMN yang masih bisa didorong untuk melakukan IPO di tahun ini, seperti, PT Perkebunan Nusantara (PTPN), PT Angkasa Pura, dan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo). |